Cari Blog Ini

Sabtu, 11 Februari 2012

Kesunyian

Jalan hidupku dituliskan dengan aksara sepi dalam buku panduan takdir. Aku melihat, kata-kata sepi, sendiri, dan terasing mencakup hampir seluruh buku takdirku. Tuhan menuliskannya dengan santai, seperti sedang melukis, dengan senyum; memberi aku takdir kesepian.
Mana yang lebih kekal, kosongan atau keberadaan. Ada akan mampu hilang, namun kekosongan tidak akan pernah hilang. Tak akan pernah hilang suatu ketiadaan daripada kekosongan. Hampa adalah hampa, demikianlah adanya.
Sekarang aku merasa begitu sendiri. Aku menikmati kesendirianku, di tengah keramaian aku masih merasa sepi. Mungkin memang sudah menjadi takdirku untuk selalu seperti ini. Aku tidak menggugatnya, aku merasakan, mempelajari, kemudian menikmati. Aku terasing di antara semua tawa, aku melihatnya seperti sebuah keterasingan. Kegersangan. Ketidakberdayaan. Kehampaan.
Aku menggenggam tanganku, mengamit keduanya. Tak ada apapun di sana, cuma ada kosong. Demikian juga aku, bergenggaman, tak ada perasaan apapun di sana, terkecuali hampa.
Aku duduk tegak, menghela napasku, memejamkan mata. Menikmati kesendirian.

Senin, 07 Maret 2011

nelangsa.....putus asa

aku merasa apa yg kulakukan hanyalah hiasan hidup. tawa, canda, amarah dan apapun yg saya lakukan sebenarnya hanyalah kebohongan, kepura-puraan. di lubuk hati yang paling  dalam telah ditorehkan bahwa saya hanyalah mahluk yang tak berguna, tiada arti dan memalukan.

maafkan saya teman , sahabat dan orang orang yang yg mengenaliku. apa  yang kulakukan selama ini terhadap kalian , bagaimana reaksi saya terhadap kalian semua itu kepura puraan, diaman agar saya terlihat sama seperti kalian.

tapi kalian tidak pernah tahu bahwa sebenarnya, batin saya begitu pilu, tersiksa, iri dengan kehidupan kalian.

andai saja hidup itu pilihan, maka saya akan memilih untuk tidak dilahirkan, saya tak kuat menanggung semuanya, saya tak bisa dan tidak tega melihat orang orang yang paling kusayangi akan menangis apabila mengetahui keadaan saya yang sebenarnya.

nyatanya saya telah dilahirkan, dan inilah saya seutuhnya dengan segala beban pikiran yang tiada terkira sakitnya yang harus saya hadapi sendiri. entah sampai kapan aku sanggup begini, terus berpura pura .dan berapa banyak  lagi orang akan kecewa atas kepura puraan saya ???

aku tahu hanya ajal yang akan mengakhiri semua ini.